Ini ceritaku...
Kisah persahabatan...
Terkadang apa yang diinginkan tak pernah didapatkan.
Seperti halnya gelap yang tak pernah sejalan dengan terang. Kadang ceria bisa
berubah menjadi kesedihan, namun tak mampu menutupi tawa ketika taburan canda telah
lama diukir dibibir manis sosok seorang sahabat. Ada yang mengatakan sesuatu
yang tidak mudah menemukan arti dari sahabat yang sebenarnya, tatkala lebih
mahal dari uang, lebih berharga dari berlian, dan seluas dunia. Ada yang tahu,
mengapa orang baik hanya memiliki sedikit teman? Karena mereka tahu, dan mereka
bisa membedakan mana yang baik dan mana yang pantas dijadikan teman. Tak perlu
dekat dengan banyak orang yang berpura-pura baik dihadapan kita, namun carilah
ia yang tak hanya menyuguhkan tawa namun memberi arti kehidupan yang
sebenarnya. Ya sahabat..
Sebuah kata yang memberikan makna yang indah. Adakah
cahaya yang tak pernah redup, disaat kasih itu mampu terbagi dan membuahkan
cinta yang lebih indah. Betapa beruntungnya aku memiliki seorang sahabat
sepertinya. Meski terkadang lupuk dari kesalahan yang tak pernah sejalan dengan
pemikiran kita, ku kira semuanya akan berakhir, tapi ternyata tidak. Disitu aku
yakin, bahwa meski dengan tusukan kata-kata perih itu, tak akan mengubah makna
dari persahabatan. Cobalah untuk membungkam kesalahan yang telah lalu dan
menaruh kedalam kotak tanpa membuangnya begitu saja. Kesalahan kecil tak
menjadi masalah jika semuanya diselesaikan dengan dingin. Tak menunggu siapa
yang akan meminta maaf lebih dulu, namun melakukannya tulus dari hati.
Jika saja lirik lagu memang mengutarakan fakta, maka
lantunannya akan mengubahnya. Sahabat, tegurannya menjadi lagu keseharianku. Genggamannya
menjadi tali penolongku. Pundaknya menjadi sandaran hidupku. Tawanya menjadi
komik hari-hariku. Hingga satu hal yang ingin aku hapus darinya, airmata yang
tak sepantasnya ia keluarkan dari matanya yang indah. Ku tulis ini untuknya,
kutujukan semuanya untuknya, kata-kata yang ku taruh tidaklah begitu bagus,
hingga mungkin banyak orang yang akan mengomentari. Tapi bagiku cerita ini memiliki
arti yang begitu bermakna untukku.
Masih teringat satu tahun yang lalu, ketika pertama
kali aku mengenalnya sebagai sosok yang pemalu. Lucu, karena sebenarnya tidak
pemalu. Disaat setahun yang lalu ia masih terlalu canggung berbicara denganku
dan sekarang betapa cerewetnya dia ketika dihadapanku. Dulunya yang ku tahu dia
itu sosok humoris, namun ternyata matanya masih seringkali mengeluarkan air
mata. Yah, setahun yang lalu, sebelum oktober ini ia mengutarakan kata sahabat
untukku. Kita memang dekat, cukup lama. Bahkan kita pernah menangis bersama.
Entah kenapa banyak yang merasut, tidak hanya cinta, tapi juga orang-orang
disekitar.
Oktober silam, baru saja alur itu berubah sekejap.
Mengapa harus oktober? Mengapa bukan diwaktu yang lain. Mengapa oktober
menyisakan banyak cerita. Membuahkan alur-alur yang tak seharusnya ada dan
mengubahnya menjadi warna tak kelabu. Adakah cerita dibalik oktober?
“Aku boleh jujur, Ra. Aku menganggapmu sebagai
sahabatku. Tapi kamu..?”
Kata-kata itu adalah ungkapan pertama akan 10
Oktober menjadi saksi persahabatan kami. Bulan yang membaur banyak cerita.
Mengapa tidak? Tak hanya menyisakan cerita cinta, menghadirkan banyak sosok
sejati yang tak lain adalah sahabat, memperkenalkanku dengan orang-orang yang
sempat singgah dan menaruh cerita bersama kami. Dialah sahabatku, Nurul
Khaerani. Aku terbiasa dengan panggilan uniknya, Nuni. Banyak cerita yang
kulalui bersamanya. Kadang aku menjadi tempat ia mengadu, kadang juga aku
menjadikannya tempat mengadu. Sesekali ia menangis dihadapanku, tapi aku tak
pernah menangis dihadapannya, hihi=D. Dia terbilang cukup unik, dia baik, dia
cantik, dia adalah sosok sahabat yang selalu tegar menghadapi masalahnya, meski
terkadang dia manja, cengeng tapi yang ku tahu dia kuat. Dia selalu bisa
menyelesaikan masalahnya, meski terkadang tak menopangnya sendiri. Dia yang ku
tahu rajin beribadah, selalu percaya dan yakin akan mimpi-mimpi dan kesuksesan.
Berbicara hobby, tidak banyak kesamaan antara aku dan dia. Sempat ia bermimpi
kelak bisa menjadi guru olahraga. Luar biasa!. Baca novel mungkin sudah jadi
bagian dari hobinya. Begitupun dengan basket, mungkin sudah melekat pada
dirinya. Aku yang hanya dengan kesederhanaanku mengukir hari-hariku dalam
ruangan kecil dengan menulis, sedangkan ia mampu beradaptasi dilapangan dengan
hobinya sendiri. Tuhan memang tahu apa yang ku minta. Banyak sahabat
disekelilingku, tapi tak banyak dari mereka yang mampu mengubah jalan ceritaku
menjadi indah. Berbeda dengannya, enggan rasanya keseriusan ini kembali ke awal
yang semula. Sebab alurnya sendiri sudah panjang dan tak mungkin untuk diputar
kembali.
Cerita demi cerita dilalui. Masalahpun semakin
menghalau. Terkadang ada masalah yang tak bisa diselesaikan bersama. Hingga itu
kami pun sempat tak berbicara beberapa hari. Tapi mungkin setelah berpikir,
adakah sesuatu yang tidak bisa diubah kembali, ketika kita berusaha untuk
menjalaninya, hingga tak ada lagi jalan selain melakukannya bersama. Cinta
pernah membungkam persahabatan kami. Bahkan pernah menutup jalan untuk tak
maju. Apa yang terjadi ketika itu? Semuanya baik-baik saja kan hingga sekarang.
Seperti itulah persahabatan. Apapun itu, bagaimanapun caranya, seperti apa
keadaannya, kita mungkin bisa menyelesaikan semuanya secara baik. Tak perlu
menuntut kata maaf lebih dulu. karena pada dasarnya egolah yang dengan sendirinya
turun merasuki persahabatan.
Bulan november kemarin, hari dimana tepat 6 november
aku berhasil membuat kejutan untuknya. Kejutan sederhana yang mampu menaruh
makna yang indah selagi itu dilakukan dengan kebersamaan. Aku tahu jawaban
darinya, mungkin hanya sekedar ucapan terima kasih. Tapi dibalik itu ada seribu
jawaban indah yang tak perlu ia utarakan. Cukup cerita kita yang tahu.
Sahabat...
Kau bagai
bintang hiasi malam
Dengan indah
terangmu
Sahabat kau
takkan hilang
Walau kau jauh
tapi dekat dihatiku....
Setelah oktober mengisahkan cerita bersejarah yang
tak terlupakan, kembali membawakan alur yang lebih indah di Februari. Disini
aku mulai tahu semua jawaban disetiap tanyaku. Pikirku yang dulunya tak sejalan
kini menemukan arah yang sebenarnya. Adakala ketika aku mencoba membuang
sesuatu yang buruk yang pernah terlintas tentangmu, masih saja keadaan tak
mampu menjawab. Berubah? Apa yang mengubahnya? Sebuah surat dengan beberapa
untaian kata yang ia taruh didalamnya. Sebuah buku yang kau beri dengan
tulisan-tulisan kecil serta kenangan yang ia suguhkan. Sempat terbaca olehku,
“Thanks buat lo,
sahabat gue banget. Gue gak bakal lupa moment ini. Makasih banget..” Itu jawaban dari tanya yang sempat terlintas
november yang lalu, tepat dihari ulang tahunnya.
“NTS, lo
baik-baik disana. Jangan lupa bahagia, gue gak punya sahabat selain lo. Love
you” Dan dia adalah sahabat
terbaikku.
Lembaran yang sempat ia tulisi membuatku mengerti
apa yang harus ku lakukan dan dengan siapa aku berdiri sekarang. Perlahan air
mata itu jatuh setelah membaca kalimat-kalimat indah yang ia tulis dalam buku
itu. Ingin rasanya aku membalas tulisan itu, ataukah ku utarakan lewat
kata-kata bahwa ia adalah sosok yang pertama kali aku temukan diantara
sahabat-sahabatku yang lain yang mampu menjadi yang terbaik bagiku dan tak akan
tergantikan oleh siapapun.
Awalnya kita tak
saling mengenal
Dan sekarang aku
tlah mengenalmu
Tak lama butuh
waktu saling mengerti
Dan ternyata aku
nyaman denganmu..
Pesanku untuknya...
“Terima kasih
sudah menjadi sahabatku. Meski tak selalu ada disetiap hari-hariku. Tapi satu
hal, namamu itu tidak pernah lepas dalam doaku. Disetiap akhir shalatku, dan
kadang kala disetiap aku mengingatmu. Bahagialah sahabatku, meski terkadang
pemikiran kita tak sejalan. Ku harap ada doa yang juga kau titipkan untukku.
Karena cerita kita tak selalu bahagia. Bisa saja semuanya berubah, ah semoga
tidak. Apapun itu ku harap ceritanya selalu indah. Jangan biarkan keegoisan
merasuk segalanya. Ini ceritaku, cerita kita...”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar