Minggu, 28 Februari 2016

~ STORY OF OCTOBER ~



Ini ceritaku...
Kisah persahabatan...


Terkadang apa yang diinginkan tak pernah didapatkan. Seperti halnya gelap yang tak pernah sejalan dengan terang. Kadang ceria bisa berubah menjadi kesedihan, namun tak mampu menutupi tawa ketika taburan canda telah lama diukir dibibir manis sosok seorang sahabat. Ada yang mengatakan sesuatu yang tidak mudah menemukan arti dari sahabat yang sebenarnya, tatkala lebih mahal dari uang, lebih berharga dari berlian, dan seluas dunia. Ada yang tahu, mengapa orang baik hanya memiliki sedikit teman? Karena mereka tahu, dan mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang pantas dijadikan teman. Tak perlu dekat dengan banyak orang yang berpura-pura baik dihadapan kita, namun carilah ia yang tak hanya menyuguhkan tawa namun memberi arti kehidupan yang sebenarnya. Ya sahabat..
Sebuah kata yang memberikan makna yang indah. Adakah cahaya yang tak pernah redup, disaat kasih itu mampu terbagi dan membuahkan cinta yang lebih indah. Betapa beruntungnya aku memiliki seorang sahabat sepertinya. Meski terkadang lupuk dari kesalahan yang tak pernah sejalan dengan pemikiran kita, ku kira semuanya akan berakhir, tapi ternyata tidak. Disitu aku yakin, bahwa meski dengan tusukan kata-kata perih itu, tak akan mengubah makna dari persahabatan. Cobalah untuk membungkam kesalahan yang telah lalu dan menaruh kedalam kotak tanpa membuangnya begitu saja. Kesalahan kecil tak menjadi masalah jika semuanya diselesaikan dengan dingin. Tak menunggu siapa yang akan meminta maaf lebih dulu, namun melakukannya tulus dari hati.
Jika saja lirik lagu memang mengutarakan fakta, maka lantunannya akan mengubahnya. Sahabat, tegurannya menjadi lagu keseharianku. Genggamannya menjadi tali penolongku. Pundaknya menjadi sandaran hidupku. Tawanya menjadi komik hari-hariku. Hingga satu hal yang ingin aku hapus darinya, airmata yang tak sepantasnya ia keluarkan dari matanya yang indah. Ku tulis ini untuknya, kutujukan semuanya untuknya, kata-kata yang ku taruh tidaklah begitu bagus, hingga mungkin banyak orang yang akan mengomentari. Tapi bagiku cerita ini memiliki arti yang begitu bermakna untukku.
Masih teringat satu tahun yang lalu, ketika pertama kali aku mengenalnya sebagai sosok yang pemalu. Lucu, karena sebenarnya tidak pemalu. Disaat setahun yang lalu ia masih terlalu canggung berbicara denganku dan sekarang betapa cerewetnya dia ketika dihadapanku. Dulunya yang ku tahu dia itu sosok humoris, namun ternyata matanya masih seringkali mengeluarkan air mata. Yah, setahun yang lalu, sebelum oktober ini ia mengutarakan kata sahabat untukku. Kita memang dekat, cukup lama. Bahkan kita pernah menangis bersama. Entah kenapa banyak yang merasut, tidak hanya cinta, tapi juga orang-orang disekitar.  
Oktober silam, baru saja alur itu berubah sekejap. Mengapa harus oktober? Mengapa bukan diwaktu yang lain. Mengapa oktober menyisakan banyak cerita. Membuahkan alur-alur yang tak seharusnya ada dan mengubahnya menjadi warna tak kelabu. Adakah cerita dibalik oktober?
“Aku boleh jujur, Ra. Aku menganggapmu sebagai sahabatku. Tapi kamu..?”
Kata-kata itu adalah ungkapan pertama akan 10 Oktober menjadi saksi persahabatan kami. Bulan yang membaur banyak cerita. Mengapa tidak? Tak hanya menyisakan cerita cinta, menghadirkan banyak sosok sejati yang tak lain adalah sahabat, memperkenalkanku dengan orang-orang yang sempat singgah dan menaruh cerita bersama kami. Dialah sahabatku, Nurul Khaerani. Aku terbiasa dengan panggilan uniknya, Nuni. Banyak cerita yang kulalui bersamanya. Kadang aku menjadi tempat ia mengadu, kadang juga aku menjadikannya tempat mengadu. Sesekali ia menangis dihadapanku, tapi aku tak pernah menangis dihadapannya, hihi=D. Dia terbilang cukup unik, dia baik, dia cantik, dia adalah sosok sahabat yang selalu tegar menghadapi masalahnya, meski terkadang dia manja, cengeng tapi yang ku tahu dia kuat. Dia selalu bisa menyelesaikan masalahnya, meski terkadang tak menopangnya sendiri. Dia yang ku tahu rajin beribadah, selalu percaya dan yakin akan mimpi-mimpi dan kesuksesan. Berbicara hobby, tidak banyak kesamaan antara aku dan dia. Sempat ia bermimpi kelak bisa menjadi guru olahraga. Luar biasa!. Baca novel mungkin sudah jadi bagian dari hobinya. Begitupun dengan basket, mungkin sudah melekat pada dirinya. Aku yang hanya dengan kesederhanaanku mengukir hari-hariku dalam ruangan kecil dengan menulis, sedangkan ia mampu beradaptasi dilapangan dengan hobinya sendiri. Tuhan memang tahu apa yang ku minta. Banyak sahabat disekelilingku, tapi tak banyak dari mereka yang mampu mengubah jalan ceritaku menjadi indah. Berbeda dengannya, enggan rasanya keseriusan ini kembali ke awal yang semula. Sebab alurnya sendiri sudah panjang dan tak mungkin untuk diputar kembali.
Cerita demi cerita dilalui. Masalahpun semakin menghalau. Terkadang ada masalah yang tak bisa diselesaikan bersama. Hingga itu kami pun sempat tak berbicara beberapa hari. Tapi mungkin setelah berpikir, adakah sesuatu yang tidak bisa diubah kembali, ketika kita berusaha untuk menjalaninya, hingga tak ada lagi jalan selain melakukannya bersama. Cinta pernah membungkam persahabatan kami. Bahkan pernah menutup jalan untuk tak maju. Apa yang terjadi ketika itu? Semuanya baik-baik saja kan hingga sekarang. Seperti itulah persahabatan. Apapun itu, bagaimanapun caranya, seperti apa keadaannya, kita mungkin bisa menyelesaikan semuanya secara baik. Tak perlu menuntut kata maaf lebih dulu. karena pada dasarnya egolah yang dengan sendirinya turun merasuki persahabatan.  
Bulan november kemarin, hari dimana tepat 6 november aku berhasil membuat kejutan untuknya. Kejutan sederhana yang mampu menaruh makna yang indah selagi itu dilakukan dengan kebersamaan. Aku tahu jawaban darinya, mungkin hanya sekedar ucapan terima kasih. Tapi dibalik itu ada seribu jawaban indah yang tak perlu ia utarakan. Cukup cerita kita yang tahu.
Sahabat...
Kau bagai bintang hiasi malam
Dengan indah terangmu
Sahabat kau takkan hilang
Walau kau jauh tapi dekat dihatiku....
Setelah oktober mengisahkan cerita bersejarah yang tak terlupakan, kembali membawakan alur yang lebih indah di Februari. Disini aku mulai tahu semua jawaban disetiap tanyaku. Pikirku yang dulunya tak sejalan kini menemukan arah yang sebenarnya. Adakala ketika aku mencoba membuang sesuatu yang buruk yang pernah terlintas tentangmu, masih saja keadaan tak mampu menjawab. Berubah? Apa yang mengubahnya? Sebuah surat dengan beberapa untaian kata yang ia taruh didalamnya. Sebuah buku yang kau beri dengan tulisan-tulisan kecil serta kenangan yang ia suguhkan. Sempat terbaca olehku,
“Thanks buat lo, sahabat gue banget. Gue gak bakal lupa moment ini. Makasih banget..” Itu jawaban dari tanya yang sempat terlintas november yang lalu, tepat dihari ulang tahunnya.
“NTS, lo baik-baik disana. Jangan lupa bahagia, gue gak punya sahabat selain lo. Love you” Dan dia adalah sahabat terbaikku.
Lembaran yang sempat ia tulisi membuatku mengerti apa yang harus ku lakukan dan dengan siapa aku berdiri sekarang. Perlahan air mata itu jatuh setelah membaca kalimat-kalimat indah yang ia tulis dalam buku itu. Ingin rasanya aku membalas tulisan itu, ataukah ku utarakan lewat kata-kata bahwa ia adalah sosok yang pertama kali aku temukan diantara sahabat-sahabatku yang lain yang mampu menjadi yang terbaik bagiku dan tak akan tergantikan oleh siapapun.
Awalnya kita tak saling mengenal
Dan sekarang aku tlah mengenalmu
Tak lama butuh waktu saling mengerti
Dan ternyata aku nyaman denganmu..
Pesanku untuknya...
“Terima kasih sudah menjadi sahabatku. Meski tak selalu ada disetiap hari-hariku. Tapi satu hal, namamu itu tidak pernah lepas dalam doaku. Disetiap akhir shalatku, dan kadang kala disetiap aku mengingatmu. Bahagialah sahabatku, meski terkadang pemikiran kita tak sejalan. Ku harap ada doa yang juga kau titipkan untukku. Karena cerita kita tak selalu bahagia. Bisa saja semuanya berubah, ah semoga tidak. Apapun itu ku harap ceritanya selalu indah. Jangan biarkan keegoisan merasuk segalanya. Ini ceritaku, cerita kita...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar