Senin, 05 Desember 2016

KITA BERTUJUH

DARI KITA UNTUK KITA

"Ketika aku berduka kau selalu ada membalut lukaku"

Senyum itu masih membaur indah dibibirnya. Nampak ceria diwajah manisnya. Watak keras terpampan jelas pada geriknya. Ocehan kasar yang menusuk dari mulutnya. Aku bahkan berpikir, bukankah itu sesuatu yang wajar. Ia ada membagi tawanya ketika tahu air mata kau akan terjatuh. Ia datang mencibirmu ketika merasa kau salah langkah. Lunakkan harimu yang lemah dan mengajakmu beranjak dari tempat semula [er]

"Disaat ku butuh teman yang mengertiku bahagiakanku"

Bukan hanya genggaman yang kau butuhkan ketika ingin terbangun dari jatuhmu, melainkan sebuah nasehat. Dengarkan dan jangan tinggalkan. Beranjak ketika ia menaruh tangannya di bahumu, dan mengatakan "jangan pernah berubah" [ham]

"Tlah banyak cerita yang kita lalui menangis bersama dan tertawa"

Hariku selalu ada hadirmu, suka dan duka, bahkan sampai waktu yang menjawab semuanya. Darinya untuknya, dan dariku untuk mereka. 7 hati, 7 cinta, 7 sahabat. Tetap menjadi pelangi yang tetap menyatukan warnanya. Karena ia tidak akan indah bila hanya satu warna [hn]

"Jarak antara kita tak lagi bermakna, engkau sahabatku selamanya.."

Ini untuknya, untuk mereka yang selalu ada. Terima kasih untuk pisau yang kau tancapkan dari depan tanpa luka, untuk sebuah tamparan kecil sebagai teguran, nyanyian yang kau lembutkan sebagai pujian, dan terima kasih telah meminjami ku pundak, tangan, kaki, dan ragamu untuk menopangku. Lihatlah apa yang terlihat dan yang akan kita lihat bersama [cim]

"Sahabat kau bagai bintang hiasi malam dengan indah terangmu"

Yang paling memahamimu, bahkan ketika diam mu sedang tidak ingin diganggu [nh]

"Sahabat kau takkan hilang walau kau jauh tapi dekat hatiku.."

Sekilas mengingat. Banyak tersirat makna dibalik paparan ocehan gurauan yang mereka berikan.
Mengapa banyak yang suka bintang? Karena ia tak pernah sendiri, meski jauh dari yang lain [fh]

"Dia"

Haii kamu...!
Salah satu kejutan terindah yang kudapati ialah mengenalmu. Sosok pendiam yang tiba-tiba menjadi gila didepanku. Humorismu menutupi tangisku, genggamanmu menuntunku untuk bangkit, ocehanmu yang selalu menegurku, galak tawamu membentuk secuil senyum dibibirku.
Sekarang, tidak lagi..
Seketika semuanya membungkam.
Humoris itu untuk menutupi tangisnya, genggaman itu untuk menuntunnya berjalan.
Aku tau aku tidak berhak untuk itu lagi. Aku tau ada yang lebih bisa membuatmu nyaman, dan itu bukan aku.
Aku tidak lebih dari kata sempurna seperti yang kamu harapkan
Aku bahkan bukan orang yang pantas berada disampingmu
Tolong..biarkan aku tetap berada dibelakang, aku hanya takut jika kamu melangkah untuk sesuatu hal yang salah. Biarkan aku untuk tetap berpura pura tak lagi menyayangimu. Tertawa lepas didepanmu. Dan melihatmu bahagia dengannya yang bukan orang lain bagiku. Mungkin bodoh! Kamu tidak akan pernah tau itu. Ataukah kamu yang memang terlalu pandai memilih, karena itu acuhnya sikapmu berniat agar aku menghapus itu semua. Aku juga manusia, sama sepertimu. Tapi aku perempuan yang tidak akan pernah dimengerti olehmu. Terima kasih untuk perhatian yang bahkan lebih dari seorang sahabat dahulu. Terima kasih untuk lelucon sederhana yang membuatku selalu nyaman bersamamu. Terima kasih untuk waktu yang selalu kau berikan. Terima kasih untuk kesan cinta yang cukup menyakitkan darimu untukku. Perlahan menjadi semakin sakit. Lagi untuk terima kasihku atas bahagia yang kau berikan padanya, seorang sahabat yang menjadi perebut bahagiaku. Tapi setidaknya itu menjadi pelajaran paling berharga untukku. Andaikan dulu kata perkata itu tidak ku utarakan, mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini.
Untukmu bahagiaku, titip rindu dariku disini. Yang lepas dari genggaman, yang jauh tertiup angin, yang terbuang dari sayup, melihat sesuatu yang tak lagi sama, sebab genggaman itu tergantikan, posisi itu dilangkahi, mundur dan tak akan maju disampingmu lagi.
Karena lebih dari bahagia yang dirasakan sahabatku, akupun akan bahagia untuk itu. Bahagiakan saja dia, bukan untukku, tapi untuk dirimu dan dirinya..

--

Kamis, 10 Maret 2016

Memori Sahabat



Mengapa harus terjalin?

Bahagia itu sederhana, selama persahabatan terjalin selamanya.
Ungkapan itu sempat menjadi tautan diantara kami. Enam hati, enam raga, enam jiwa. Ya SRF. Sebuah nama yang didalamnya terjalin pertemanan yang sangat kuat. orang-orang mengenalnya bukan sebagai geng, melainkan semacam kelompok yang beranggotakan 6 orang *haha sama aja=D*
Oiya sebelumnya kenalin dulu anggota dari SRF. Eits tapi bentar, SRF itu singkatan dari Six Real Friend yang artinya 6 Sahabat Sejati. Ini dia mereka. .
Yang pertama Nur Ramadhani. Nah belum tahu kan siapa dia sebenernya. Dia itu salah satu anggota dari kita yang paling hobi marah. Tapi tetep aja dia sahabat terbaik kami. Yang kedua Yusrina. Ini nih sahabat kita yang paling nyenengin. Sabar banget orangnya,udah gitu lembut, Cuma ya dia agak lelet-,- . Terus Asmita, kalo yang ini kerjaannya galau mulu, dikit-dikit nangis, hufft gara-gara cowok sih =D . Beda sama Alfiah, dia paling bisa hadepin cowok. Cuma dia biasa kemakan sama kata-kata cowok, makanya dia lebih sering dideketin cowok. Nah beda lagi sama yang satu ini Afrida. Kalo ini mah paling sensitif, anti banget sama yang namanya cowok. Wow!! Haha sampe-sampe pacarnya tiap hari dicuekin. Ckck pida pida =D. Terakhir Gue, Nurul Thahara Salam, yang paling tau dalam asal-usul SRF yang sebenernya.
SRF itu bukan unsur kesengajaan kami berenam saling kenal. Nama SRF diambil dari skenario film yang dengan isengnya gue bikin dulu. film itu sempat dirilis di sekolah kami, tapi karena waktu, jadi gak sampai seasonnya. Dan karena itu kami berenam memutuskan akan adanya persahabatan diantara kami. Apa yang terjadi setelah ini? Seperti halnya persahabatan yang sebenarnya. Kadang kami nongkrong sampai sore disekolah. Kalau udah jam pelajaran, duduknya itu harus satu baris semua, deketan, gak boleh pisah. Hahah itu kami dulu. Bahkan sempet kita janjian gak ada yang jomblo=D. Tempat kumpul paling asik dibelakang perpus, disamping kelas, kantin, dan yang paling penting dirumah gue. Senengnya gue itu, kalo mereka udah pada dateng kerumah, kita kumpul kayak orang gila, rame-rame, ribut-ribut, sampe kedengeran bapak gue=D
Gue inget waktu kita udah kelas 3 SMP. Setelah setahun terjalin, dan disitu kita mulai berpikir bagaimana kita kedepannya. Sempat diantara kita ada yang mengatakan “...tidak ada yang namanya mantan sahabat..” . Kata-kata itu masih saja terngiang jelas diingatan gue sampai sekarang, sampai gue SMA. Sampai gue ngerasa ada yang berubah dari gue, bahkan dari mereka semua. Semuanya tampak berbeda, tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Mungkin karena sekarang masing-masing dari kita sibuk dan lebih asik dengan suasana baru, juga teman-teman baru. Sempat sih kita saling sapa, saling senyum, sesekali bercerita. Tapi Cuma sementara, tidak sampai sekarang. Bahkan kita udah kayak gak kenal. Kok bisa ya? Ah tapi setidaknya ada kata yang pernah melekat diantara kita ‘Tidak ada yang namanya mantan sahabat’ ..  Gue masih ngerasa beruntung. Karena ternyata tidak semua diantara mereka yang lupa sama SRF. Sampai sejauh ini, gue, fida, fia, masih akrab, bahkan masih mengenal kata sahabat. Biarkan mereka menikmati dunianya. Sama halnya gue yang menikmati dunia baru gue, dunia persahabatan. Kita tau kan,masih banyak orang diluar sana yang bisa menjadi sahabat kita. Yang lebih baik dari mereka. Gue gak bakal lupa sama SRF, setelah setahun lebih terjalin. Gue tau arti sahabat yang sebenernya itu dari SRF. Sebelumnya gue Cuma ngejalin sebatas kata sahabat doang. Tapi setelah gue kenal SRF dan benar-benar tau karakteristik dari mereka, disitu gue belajar menghadapi persahabatan.
Terima kasih SRF. Sekarang kita melangkah didunia kita masing-masing. Kita nikmati kehidupan kita. Gak ada lagi beban yang kita angkut berenam. Gak ada lagi cerita yang kita jalani berenam. Gak ada lagi alur yang kita lalui berenam. Gue ngerasa beruntung bisa kenal sama kalian..
Ini lagu favorite kita...
“Peterpen-semua tentang kita”
“D’Masiv-merindukanmu”
“Maudi ayunda-perahu kertas”
“Super7-best friend forever”

Guys...yang namanya sahabat itu gak ada yang namanya mantan. Jadi temukanlah sahabat yang sebenarnya, karena mencari sahabat itu susah. Cari dia yang bisa mengerti arti persahabatan yang sesungguhnya






Minggu, 28 Februari 2016

~ STORY OF OCTOBER ~



Ini ceritaku...
Kisah persahabatan...


Terkadang apa yang diinginkan tak pernah didapatkan. Seperti halnya gelap yang tak pernah sejalan dengan terang. Kadang ceria bisa berubah menjadi kesedihan, namun tak mampu menutupi tawa ketika taburan canda telah lama diukir dibibir manis sosok seorang sahabat. Ada yang mengatakan sesuatu yang tidak mudah menemukan arti dari sahabat yang sebenarnya, tatkala lebih mahal dari uang, lebih berharga dari berlian, dan seluas dunia. Ada yang tahu, mengapa orang baik hanya memiliki sedikit teman? Karena mereka tahu, dan mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang pantas dijadikan teman. Tak perlu dekat dengan banyak orang yang berpura-pura baik dihadapan kita, namun carilah ia yang tak hanya menyuguhkan tawa namun memberi arti kehidupan yang sebenarnya. Ya sahabat..
Sebuah kata yang memberikan makna yang indah. Adakah cahaya yang tak pernah redup, disaat kasih itu mampu terbagi dan membuahkan cinta yang lebih indah. Betapa beruntungnya aku memiliki seorang sahabat sepertinya. Meski terkadang lupuk dari kesalahan yang tak pernah sejalan dengan pemikiran kita, ku kira semuanya akan berakhir, tapi ternyata tidak. Disitu aku yakin, bahwa meski dengan tusukan kata-kata perih itu, tak akan mengubah makna dari persahabatan. Cobalah untuk membungkam kesalahan yang telah lalu dan menaruh kedalam kotak tanpa membuangnya begitu saja. Kesalahan kecil tak menjadi masalah jika semuanya diselesaikan dengan dingin. Tak menunggu siapa yang akan meminta maaf lebih dulu, namun melakukannya tulus dari hati.
Jika saja lirik lagu memang mengutarakan fakta, maka lantunannya akan mengubahnya. Sahabat, tegurannya menjadi lagu keseharianku. Genggamannya menjadi tali penolongku. Pundaknya menjadi sandaran hidupku. Tawanya menjadi komik hari-hariku. Hingga satu hal yang ingin aku hapus darinya, airmata yang tak sepantasnya ia keluarkan dari matanya yang indah. Ku tulis ini untuknya, kutujukan semuanya untuknya, kata-kata yang ku taruh tidaklah begitu bagus, hingga mungkin banyak orang yang akan mengomentari. Tapi bagiku cerita ini memiliki arti yang begitu bermakna untukku.
Masih teringat satu tahun yang lalu, ketika pertama kali aku mengenalnya sebagai sosok yang pemalu. Lucu, karena sebenarnya tidak pemalu. Disaat setahun yang lalu ia masih terlalu canggung berbicara denganku dan sekarang betapa cerewetnya dia ketika dihadapanku. Dulunya yang ku tahu dia itu sosok humoris, namun ternyata matanya masih seringkali mengeluarkan air mata. Yah, setahun yang lalu, sebelum oktober ini ia mengutarakan kata sahabat untukku. Kita memang dekat, cukup lama. Bahkan kita pernah menangis bersama. Entah kenapa banyak yang merasut, tidak hanya cinta, tapi juga orang-orang disekitar.  
Oktober silam, baru saja alur itu berubah sekejap. Mengapa harus oktober? Mengapa bukan diwaktu yang lain. Mengapa oktober menyisakan banyak cerita. Membuahkan alur-alur yang tak seharusnya ada dan mengubahnya menjadi warna tak kelabu. Adakah cerita dibalik oktober?
“Aku boleh jujur, Ra. Aku menganggapmu sebagai sahabatku. Tapi kamu..?”
Kata-kata itu adalah ungkapan pertama akan 10 Oktober menjadi saksi persahabatan kami. Bulan yang membaur banyak cerita. Mengapa tidak? Tak hanya menyisakan cerita cinta, menghadirkan banyak sosok sejati yang tak lain adalah sahabat, memperkenalkanku dengan orang-orang yang sempat singgah dan menaruh cerita bersama kami. Dialah sahabatku, Nurul Khaerani. Aku terbiasa dengan panggilan uniknya, Nuni. Banyak cerita yang kulalui bersamanya. Kadang aku menjadi tempat ia mengadu, kadang juga aku menjadikannya tempat mengadu. Sesekali ia menangis dihadapanku, tapi aku tak pernah menangis dihadapannya, hihi=D. Dia terbilang cukup unik, dia baik, dia cantik, dia adalah sosok sahabat yang selalu tegar menghadapi masalahnya, meski terkadang dia manja, cengeng tapi yang ku tahu dia kuat. Dia selalu bisa menyelesaikan masalahnya, meski terkadang tak menopangnya sendiri. Dia yang ku tahu rajin beribadah, selalu percaya dan yakin akan mimpi-mimpi dan kesuksesan. Berbicara hobby, tidak banyak kesamaan antara aku dan dia. Sempat ia bermimpi kelak bisa menjadi guru olahraga. Luar biasa!. Baca novel mungkin sudah jadi bagian dari hobinya. Begitupun dengan basket, mungkin sudah melekat pada dirinya. Aku yang hanya dengan kesederhanaanku mengukir hari-hariku dalam ruangan kecil dengan menulis, sedangkan ia mampu beradaptasi dilapangan dengan hobinya sendiri. Tuhan memang tahu apa yang ku minta. Banyak sahabat disekelilingku, tapi tak banyak dari mereka yang mampu mengubah jalan ceritaku menjadi indah. Berbeda dengannya, enggan rasanya keseriusan ini kembali ke awal yang semula. Sebab alurnya sendiri sudah panjang dan tak mungkin untuk diputar kembali.
Cerita demi cerita dilalui. Masalahpun semakin menghalau. Terkadang ada masalah yang tak bisa diselesaikan bersama. Hingga itu kami pun sempat tak berbicara beberapa hari. Tapi mungkin setelah berpikir, adakah sesuatu yang tidak bisa diubah kembali, ketika kita berusaha untuk menjalaninya, hingga tak ada lagi jalan selain melakukannya bersama. Cinta pernah membungkam persahabatan kami. Bahkan pernah menutup jalan untuk tak maju. Apa yang terjadi ketika itu? Semuanya baik-baik saja kan hingga sekarang. Seperti itulah persahabatan. Apapun itu, bagaimanapun caranya, seperti apa keadaannya, kita mungkin bisa menyelesaikan semuanya secara baik. Tak perlu menuntut kata maaf lebih dulu. karena pada dasarnya egolah yang dengan sendirinya turun merasuki persahabatan.  
Bulan november kemarin, hari dimana tepat 6 november aku berhasil membuat kejutan untuknya. Kejutan sederhana yang mampu menaruh makna yang indah selagi itu dilakukan dengan kebersamaan. Aku tahu jawaban darinya, mungkin hanya sekedar ucapan terima kasih. Tapi dibalik itu ada seribu jawaban indah yang tak perlu ia utarakan. Cukup cerita kita yang tahu.
Sahabat...
Kau bagai bintang hiasi malam
Dengan indah terangmu
Sahabat kau takkan hilang
Walau kau jauh tapi dekat dihatiku....
Setelah oktober mengisahkan cerita bersejarah yang tak terlupakan, kembali membawakan alur yang lebih indah di Februari. Disini aku mulai tahu semua jawaban disetiap tanyaku. Pikirku yang dulunya tak sejalan kini menemukan arah yang sebenarnya. Adakala ketika aku mencoba membuang sesuatu yang buruk yang pernah terlintas tentangmu, masih saja keadaan tak mampu menjawab. Berubah? Apa yang mengubahnya? Sebuah surat dengan beberapa untaian kata yang ia taruh didalamnya. Sebuah buku yang kau beri dengan tulisan-tulisan kecil serta kenangan yang ia suguhkan. Sempat terbaca olehku,
“Thanks buat lo, sahabat gue banget. Gue gak bakal lupa moment ini. Makasih banget..” Itu jawaban dari tanya yang sempat terlintas november yang lalu, tepat dihari ulang tahunnya.
“NTS, lo baik-baik disana. Jangan lupa bahagia, gue gak punya sahabat selain lo. Love you” Dan dia adalah sahabat terbaikku.
Lembaran yang sempat ia tulisi membuatku mengerti apa yang harus ku lakukan dan dengan siapa aku berdiri sekarang. Perlahan air mata itu jatuh setelah membaca kalimat-kalimat indah yang ia tulis dalam buku itu. Ingin rasanya aku membalas tulisan itu, ataukah ku utarakan lewat kata-kata bahwa ia adalah sosok yang pertama kali aku temukan diantara sahabat-sahabatku yang lain yang mampu menjadi yang terbaik bagiku dan tak akan tergantikan oleh siapapun.
Awalnya kita tak saling mengenal
Dan sekarang aku tlah mengenalmu
Tak lama butuh waktu saling mengerti
Dan ternyata aku nyaman denganmu..
Pesanku untuknya...
“Terima kasih sudah menjadi sahabatku. Meski tak selalu ada disetiap hari-hariku. Tapi satu hal, namamu itu tidak pernah lepas dalam doaku. Disetiap akhir shalatku, dan kadang kala disetiap aku mengingatmu. Bahagialah sahabatku, meski terkadang pemikiran kita tak sejalan. Ku harap ada doa yang juga kau titipkan untukku. Karena cerita kita tak selalu bahagia. Bisa saja semuanya berubah, ah semoga tidak. Apapun itu ku harap ceritanya selalu indah. Jangan biarkan keegoisan merasuk segalanya. Ini ceritaku, cerita kita...”

Minggu, 21 Februari 2016

Selip Rasa Dalam Hati


Tema: Cinta Diam-Diam
Judul: Selip rasa dalam hati
Author: NTS

Untuk sebuah syarat mutlak hatiku benar-benar tertaut padamu. Hanya saja, getar ini tak selalu mudah ku artikan. Ah, tentu. Memandang kebahagiaanmu saja sudah sangat menyenangkan, entah dari jarak dekat ataupun jauh. Pasalnya, satu kata berwujud ‘Hai’ telah mampu membuat semuanya terasa melayang lantas menjatuhkan secara pelan-pelan. Andai saja aku tau dari awal, satu kata itu mampu merenggutku karena kehilangan. Tepat! Setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Sama seperti ketika aku mengenal sosokmu, seakan kamu akan selalu ada di hari-hariku, tak peduli sampai kapan sang waktu melukiskan kisah itu untukku. Kisah yang selalu aku nikmati diam-diam di belakangmu. Sekali lagi, perpisahan itu ada. Ah.. memang tak ada ucapan ‘selamat tinggal’ antara kita, bukan jarak yang membuat kita terpisah, hanya kedekatan kita yang terasa ‘berbeda’. Itulah definisi perpisahan yang sebenarnya.
Ingatkah? Ketika aku dan kamu saling tertawa lepas, entah menertawakan apa saja, saling mencibir, saling peduli, saling tersenyum bahkan saling terluka. Aku merekamnya. Siluet-siluet masa indah itu masih terekam jelas di otakku, pada kenyataannya kamu masih mendominasi disini, di hidupku. Tahukah? Sejak perasaan nyaman itu tiba, aku baru sadar bahwa perasaan cinta itu ada. Menghiasi setiap sudut sepiku. Sayangnya kamu tak pernah menyadarinya. Ya, semua kisah-kisah yang sudah lewat hanya sekedar ‘masa lalu’ yang tak sedikitpun mengecohmu. Padahal, jauh di dalam harapanku, semuanya masih tetap istimewa.
Sampai sekarang, rasa itu masih sama. Jelas dengan keadaan yang berbeda. Pemandanganmu dari jauh sudah cukup membuat kupu-kupu menggelitiki perutku. Tak sampai hati mengingatmu, selalu aku berharap Tuhan memutar kembali kisah kita sekali saja, supaya aku tak perlu merasa kehilangan sosokmu yang dulu. Aku sadar, perubahan itu ada. Dimana metamorfosa terkadang membuat jengah. Ah maaf, aku tak sedang membicarakan perubahan. Kamu masih sosok yang sama, hanya keadaan yang berbeda. Haha. Miris, cukup miris. Aku merindukanmu. Selalu merindukanmu disetiap helaan nafasku. Sampai sekarang pun, aku merindukanmu. Tentu dalam diamku.
Tahukah? Tatkala aku –berusaha menjaga jarak antara kita, itu sangat sulit. Bisa saja aku memerintahkan otakku untuk tak menegurmu atau bahkan berpura-pura tak mengenalmu. Sayangnya aku gagal, semua tersabotase olehmu. Pertahananku selalu rapuh hanya karena sentuhan kecilmu. Yang aku tau, ini bukan sekedar selipan rasa dalam hati. Mencintaimu diam-diam bukan hanya sekedar angin lalu. Sayangnya kamu tak pernah tau, namun aku selalu menikmatinya.
***

Jumat, 19 Februari 2016

Because I'm Scout



created, NTS

Terkadang aku berpikir kita hidup untuk apa. Kadang aku berpikir kita hidup untuk siapa. Dan kadang aku berpikir, maka jadi apa aku suatu saat nanti. Aku hanya anak remaja pada umumnya. Berangkat pagi dari rumah dan pulang sore untuk kembali lagi kerumah. Tapi disela-sela waktu tersebut aku selalu mengisi waktu luangku dalam sebuah organisasi yang membuatku mulai paham akan kehidupan. Kebersamaan, kedisiplinan, tanggungjawab dan bahkan cinta sekalipun. Tapi orang lain menganggap bahwa kita ini ketinggalan jaman. Orang lain menganggap kalau kita itu ribet. Harus pakai inilah, harus pakai itulah, harus bisa inilah, harus bisa itulah.
Tapi sebenarnya no! .
Dunia ini luas. kita harus tau kalau kita tidak hidup sendiri. kita harus tau bahwa kita membutuhkan orang lain dan orang lain membutuhkan kita. Tidak perlu meminta imbalan, tapi yakin suatu saat nanti pasti tuhan akan membalasnya. Aku hanya ingin menjadi orang yang berguna, aku hanya ingin menjadi orang yang suka berkarya, aku ingin melatih diriku menjadi orang yang bertakwa kepada tuhan yang maha esa. Menjadi orang yang cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, terlatih menjadi patriot yang sopan dan ksatria, menjadi orang yang disiplin dan menjadi orang yang mampu bertanggung jawab dan dapat dipercaya. semua itu saya lakukan dengan semangat yang membara seperti api unggung yang kami suguh.
Tidak harus selalu memakai kacu atau baret, tidak harus memakai atribut resmi. tapi bagaimana kita mengaplikasikan apa yang kita pelajari.
Hari ini bangun tenda, tapi hari esok mari kita bangun bangsa....

Senin, 15 Februari 2016

Friendship


Sahabat...
karenamu aku belajar akan cerita hidup yang sebenarnya.
kau tau sahabat, aku selalu percaya bahwa kita akan selalu baik-baik saja
Kau tau, sejak aku mengenalmu banyak cerita yang tak pernah bisa ku lupa
Sebuah masa dimana aku selalu merasakan bahagia bahkan sekalipun kecewa olehmu

Sahabat...
Bolehkah aku meminta satu hal darimu
Izinkan aku untuk bisa terus bersamamu selamanya
Jadilah kau sahabat dunia dan akhiratku
Yang tak pernah lepas dari doa, yang bahkan selalu mengingatkan kapanpun itu

Bawa setiap nama dilangkah kita bersama
Tak peduli apa kata orang, yakinlah aku akan selalu ada untukmu sahabatku
Aku akan menjadi orang yang setia disampingmu
Menjadi orang yang selalu memberiku tawa kebahagiaan, dan kita bersenang-senang bersama
Jangan pernah berubah sahabatku
Sekalipun engkau mengenalnya
Atau bahkan kau menemukan seseorang lagi yang mampu membuatmu bahagia
Aku tak ingin persahabatan ini membungkam hanya karena cinta
Aku selalu percaya padamu, jangan hilangkan kepercayaanku

Sahabatku...
Aku menyayangimu
Aku mencintaimu sebagai sahabat
Tetap indahkan semuanya
Jangan sampai diantara kita ada keegoisan
Semua bisa diatasi tanpa harus saling dendam
Aku, kamu, menjadi kita, jaga semua itu
Karena sampai kapanpun aku akan selalu ada untukmu
Jadilah kau bintang yang selalu memberi cahaya