Senin, 05 Desember 2016

KITA BERTUJUH

DARI KITA UNTUK KITA

"Ketika aku berduka kau selalu ada membalut lukaku"

Senyum itu masih membaur indah dibibirnya. Nampak ceria diwajah manisnya. Watak keras terpampan jelas pada geriknya. Ocehan kasar yang menusuk dari mulutnya. Aku bahkan berpikir, bukankah itu sesuatu yang wajar. Ia ada membagi tawanya ketika tahu air mata kau akan terjatuh. Ia datang mencibirmu ketika merasa kau salah langkah. Lunakkan harimu yang lemah dan mengajakmu beranjak dari tempat semula [er]

"Disaat ku butuh teman yang mengertiku bahagiakanku"

Bukan hanya genggaman yang kau butuhkan ketika ingin terbangun dari jatuhmu, melainkan sebuah nasehat. Dengarkan dan jangan tinggalkan. Beranjak ketika ia menaruh tangannya di bahumu, dan mengatakan "jangan pernah berubah" [ham]

"Tlah banyak cerita yang kita lalui menangis bersama dan tertawa"

Hariku selalu ada hadirmu, suka dan duka, bahkan sampai waktu yang menjawab semuanya. Darinya untuknya, dan dariku untuk mereka. 7 hati, 7 cinta, 7 sahabat. Tetap menjadi pelangi yang tetap menyatukan warnanya. Karena ia tidak akan indah bila hanya satu warna [hn]

"Jarak antara kita tak lagi bermakna, engkau sahabatku selamanya.."

Ini untuknya, untuk mereka yang selalu ada. Terima kasih untuk pisau yang kau tancapkan dari depan tanpa luka, untuk sebuah tamparan kecil sebagai teguran, nyanyian yang kau lembutkan sebagai pujian, dan terima kasih telah meminjami ku pundak, tangan, kaki, dan ragamu untuk menopangku. Lihatlah apa yang terlihat dan yang akan kita lihat bersama [cim]

"Sahabat kau bagai bintang hiasi malam dengan indah terangmu"

Yang paling memahamimu, bahkan ketika diam mu sedang tidak ingin diganggu [nh]

"Sahabat kau takkan hilang walau kau jauh tapi dekat hatiku.."

Sekilas mengingat. Banyak tersirat makna dibalik paparan ocehan gurauan yang mereka berikan.
Mengapa banyak yang suka bintang? Karena ia tak pernah sendiri, meski jauh dari yang lain [fh]

"Dia"

Haii kamu...!
Salah satu kejutan terindah yang kudapati ialah mengenalmu. Sosok pendiam yang tiba-tiba menjadi gila didepanku. Humorismu menutupi tangisku, genggamanmu menuntunku untuk bangkit, ocehanmu yang selalu menegurku, galak tawamu membentuk secuil senyum dibibirku.
Sekarang, tidak lagi..
Seketika semuanya membungkam.
Humoris itu untuk menutupi tangisnya, genggaman itu untuk menuntunnya berjalan.
Aku tau aku tidak berhak untuk itu lagi. Aku tau ada yang lebih bisa membuatmu nyaman, dan itu bukan aku.
Aku tidak lebih dari kata sempurna seperti yang kamu harapkan
Aku bahkan bukan orang yang pantas berada disampingmu
Tolong..biarkan aku tetap berada dibelakang, aku hanya takut jika kamu melangkah untuk sesuatu hal yang salah. Biarkan aku untuk tetap berpura pura tak lagi menyayangimu. Tertawa lepas didepanmu. Dan melihatmu bahagia dengannya yang bukan orang lain bagiku. Mungkin bodoh! Kamu tidak akan pernah tau itu. Ataukah kamu yang memang terlalu pandai memilih, karena itu acuhnya sikapmu berniat agar aku menghapus itu semua. Aku juga manusia, sama sepertimu. Tapi aku perempuan yang tidak akan pernah dimengerti olehmu. Terima kasih untuk perhatian yang bahkan lebih dari seorang sahabat dahulu. Terima kasih untuk lelucon sederhana yang membuatku selalu nyaman bersamamu. Terima kasih untuk waktu yang selalu kau berikan. Terima kasih untuk kesan cinta yang cukup menyakitkan darimu untukku. Perlahan menjadi semakin sakit. Lagi untuk terima kasihku atas bahagia yang kau berikan padanya, seorang sahabat yang menjadi perebut bahagiaku. Tapi setidaknya itu menjadi pelajaran paling berharga untukku. Andaikan dulu kata perkata itu tidak ku utarakan, mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini.
Untukmu bahagiaku, titip rindu dariku disini. Yang lepas dari genggaman, yang jauh tertiup angin, yang terbuang dari sayup, melihat sesuatu yang tak lagi sama, sebab genggaman itu tergantikan, posisi itu dilangkahi, mundur dan tak akan maju disampingmu lagi.
Karena lebih dari bahagia yang dirasakan sahabatku, akupun akan bahagia untuk itu. Bahagiakan saja dia, bukan untukku, tapi untuk dirimu dan dirinya..

--